Tampilkan postingan dengan label Pamer. Tampilkan semua postingan

Hey, lihat! Dia sedang melakukan pencitraan!!


Saat ini, di tengah hiruk pikuk nuansa politik dalam rangka menyambut pilpres 5 Juli nanti, muncul berbagai isu miring tentang calon presiden. Entah itu persoalan HAM, kasus karatan bus trans Jakarta, dan lain sebagainya. Akan tetapi, satu hal yang menarik perhatian saya adalah isu tentang pencitraan. Sebenarnya isu ini tidak hanya terjadi menjelang pilpres saja, melainkan pada hari biasa pun kerap terdengar. Masih ingat, ketika Dahlan Iskan pergi bekerja menggunakan kereta ekonomi? Dan ketika ia melempar kursi penjagaan jalan tol? Saat itu, tidak sedikit yang menganggapnya bahwa ia hanya melakukan pencitraan belaka. Sebenarnya yang dinamakan pencitraan itu seperti apa?
Pencitraan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gambaran diri yang ingin diciptakan oleh seseorang, dan itu dalam skala yang sangat luas. Kegiatan apapun itu, asal dilakukan dengan niatan agar orang lain dapat menganggapnya sebagai cerminan dari sifat, maka kegiatan pencitraannya bisa dikatakan berhasil. Ketika ada seseorang yang kesehariannya berbicara dengan serius, maka ia ingin agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang serius. Itu adalah pengertian singkat mengenai pencitraan.
Kemudian, bagaimana Islam memandang pencitraan ini? Dalam Islam, pencitraan lebih familiar dengan istilah “riya”. Kurang lebih maknanya sama, yakni melakukan suatu perbuatan yang dianggap baik agar dirinya dinilai baik. Ia melakukan perbuatan tersebut “hanya” untuk mendapat pengakuan dari orang lain, bukan untuk Allah. Perbuatan ini, sudah terjadi sejak dahulu, hampir 15 abad bahkan lebih. Sampai-sampai Rasul SAW bersabda, yang kurang lebih artinya: “hal paling aku khawatirkan terjadi atas umatku adalah Syirik kepada Allah, aku tidak mengatakan engkau akan menyembah patung, bulan atau matahari. Akan tetapi perbuatan yang dilakukan bukan karena Allah dan syahwat yang tersembunyi”. Peringatan yang diberikan oleh Rasul SAW tersebut, tentu menyiratkan betapa bahayanya riya atau pencitraan itu. Sehingga ia tergolong kepada syirik kecil.   
Setelah kita memahami betapa bahaya dan dosa bagi orang yang melakukan riya atau pencitraan tersebut, kemudian muncul pertanyaan, apakah setiap hal yang dilakukan secara terang-terangan langsung mendapat justifikasi bahwa itu adalah riya? Dan siapakah yang berhak untuk men-judge apakah suatu perbuatan itu tergolong riya atau tidak?
Untuk menjawab pertanyaan pertama, saya akan mengisahkah dua kisah sahabat Rasul SAW, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Menurut beberapa riwayat, bahwa ketika Abu Bakar akan membayar zakat ataupun sedekah, maka ia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Sedangkan, Umar bin Khattab ketika melakukan hal seperti di atas, ia melakukannya dengan terang-terangan. Kemudian peristiwa ini diadukan kepada Rasul SAW, untuk bertanya, manakah yang benar di antara keduanya.
Rasul SAW kemudian menjawab bahwa kedua-duanya benar. Abu Bakar Ash-Shiddiq melakukannya dengan sembunyi-sembunyi karena ia (yang dikenal sangat tawadhu’) khawatir bahwa apabila perbuatannya diketahui oleh orang lain, maka akan berubahlah niatnya yakni ingin mendapat pujian dari orang lain. Sedangkan Umar bin Khattab, ia melakukan hal tersebut secara terang-terangan agar dapat menjadi contoh bagi orang lain. Ia (yang dikenal teguh pendiriannya) berharap dengan dilakukannya perbuatan tersebut secara terang-terangan, justru akan memotivasi orang lain agar melakukan perbuatan serupa.
Dari kisah di atas, telah jelas bahwa ternyata bukan persoalan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, melainkan bagaimana hati ini memandang perbuatan yang dilakukan. Karena, bukan tidak mungkin orang yang melakukan secara sembunyi-sembunyi juga akan dihinggapi perasaan “ujub”, yakni ia merasa bahwa perbuatannya lebih baik dari orang lain. Jadi, telah jelaslah bahwa perbuatan yang dilakukan secara terang-terangan tidak bisa dianggap sebagai pencitraan atau riya belaka.
Untuk pertanyaan kedua, apabila kita sudah memahami jawaban dari pertanyaan pertama di atas tadi, maka sebenarnya kita sudah memiliki gambaran atas pertanyaan kedua. Apabila sudah dipahami bahwa perbuatan terang-terangan belum tentu tergolong riya, dan perbuatan sembunyi-sembunyi juga belum tentu lebih baik dari yang terang-terangan, maka telah jelaslah bahwa yang mengetahui “nia sebenarnyat” dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah dirinya sendiri dan Tuhan. Ya. Karena hanya dirinya dan Tuhanlah yang mengetahui secara hakikat maksud dari perbuatan yang dilakukan. Orang lain boleh saja menganggap bahwa kita melakukan pencitraan, tapi kalau ternyata orang yang dimaksud justru melakukan dengan ikhlas dalam hatinya, bukankah orang yang menganggap orang lain melakukan pencitraan justru melakukan KEDENGKIAN terhadap orang yang dimaksud.
Sungguh, saya merasa miris melihat fenomena yang terjadi dalam pemilihan presiden ini. Banyak pendukung fanatis yang terkuras energinya, justru untuk menjelek-jelekkan pihak lawan dari calon presiden yang didukungnya. Bukankah dengan menjelek-jelekkan pihak lawan, yang terjadi justru adannya balasan serupa dari pihak lawan? Mengapa kita tidak menaruh fokus kita terhadap kebaikan apa yang akan dilakukan oleh calon presiden yang kita dukung? Bukankah itu lebih baik bagi kita semua, terlebih bagi bangsa ini? Atau, karena saking cintanya kita sudah menjadi gelap mata dan tak nampak lagi kebaikan yang ada pada diri lawan? Entahlah, tapi yang jelas, sikap yang kita munculkan suasana pemilihan presiden ini, merupakan gambawan dari diri kita yang sebenarnya. Apakah kita memang lebih suka melihat kekurangan orang lain dari pada kelebihannya, suka menjelek-jelekkan orang lain daripada kejelekan diri sendiri, suka mengumpat atau berkata kasar, itu semua dapat kita lihat dari perilaku kita masing-masing dalam menyikapi fenomena ini.
Melalui tulisan singkat ini, saya hanya ingin mengajak, janganlah kita terlalu mudah menilai perbuatan orang lain. Karena belum tentu apa yang kita nilai itu adalah hal yang benar. Kita (terlebih yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW), hendaknya lebih mengedepankan prasangka baik terhadap orang lain. Bukankah Panutan kita selalu mengajarkan hal demikian, bahkan ketika sedang berhadapan dengan musuh Islam sekalipun. Semoga, kita dapat meniru pribadi beliau dan mendapatkan syafaatnya di hari akhir kelak. Amin.

Hey, lihat! Dia sedang melakukan pencitraan!!

Saat ini, di tengah hiruk pikuk nuansa politik dalam rangka menyambut pilpres 5 Juli nanti, muncul berbagai isu miring tentang calon presiden. Entah itu persoalan HAM, kasus karatan bus trans Jakarta, dan lain sebagainya. Akan tetapi, satu hal yang menarik perhatian saya adalah isu tentang pencitraan. Sebenarnya isu ini tidak hanya terjadi menjelang pilpres saja, melainkan pada hari biasa pun kerap terdengar. Masih ingat, ketika Dahlan Iskan pergi bekerja menggunakan kereta ekonomi? Dan ketika ia melempar kursi penjagaan jalan tol? Saat itu, tidak sedikit yang menganggapnya bahwa ia hanya melakukan pencitraan belaka. Sebenarnya yang dinamakan pencitraan itu seperti apa?
Pencitraan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gambaran diri yang ingin diciptakan oleh seseorang, dan itu dalam skala yang sangat luas. Kegiatan apapun itu, asal dilakukan dengan niatan agar orang lain dapat menganggapnya sebagai cerminan dari sifat, maka kegiatan pencitraannya bisa dikatakan berhasil. Ketika ada seseorang yang kesehariannya berbicara dengan serius, maka ia ingin agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang serius. Itu adalah pengertian singkat mengenai pencitraan.
Kemudian, bagaimana Islam memandang pencitraan ini? Dalam Islam, pencitraan lebih familiar dengan istilah “riya”. Kurang lebih maknanya sama, yakni melakukan suatu perbuatan yang dianggap baik agar dirinya dinilai baik. Ia melakukan perbuatan tersebut “hanya” untuk mendapat pengakuan dari orang lain, bukan untuk Allah. Perbuatan ini, sudah terjadi sejak dahulu, hampir 15 abad bahkan lebih. Sampai-sampai Rasul SAW bersabda, yang kurang lebih artinya: “hal paling aku khawatirkan terjadi atas umatku adalah Syirik kepada Allah, aku tidak mengatakan engkau akan menyembah patung, bulan atau matahari. Akan tetapi perbuatan yang dilakukan bukan karena Allah dan syahwat yang tersembunyi”. Peringatan yang diberikan oleh Rasul SAW tersebut, tentu menyiratkan betapa bahayanya riya atau pencitraan itu. Sehingga ia tergolong kepada syirik kecil.   
Setelah kita memahami betapa bahaya dan dosa bagi orang yang melakukan riya atau pencitraan tersebut, kemudian muncul pertanyaan, apakah setiap hal yang dilakukan secara terang-terangan langsung mendapat justifikasi bahwa itu adalah riya? Dan siapakah yang berhak untuk men-judge apakah suatu perbuatan itu tergolong riya atau tidak?
Untuk menjawab pertanyaan pertama, saya akan mengisahkah dua kisah sahabat Rasul SAW, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Menurut beberapa riwayat, bahwa ketika Abu Bakar akan membayar zakat ataupun sedekah, maka ia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Sedangkan, Umar bin Khattab ketika melakukan hal seperti di atas, ia melakukannya dengan terang-terangan. Kemudian peristiwa ini diadukan kepada Rasul SAW, untuk bertanya, manakah yang benar di antara keduanya.
Rasul SAW kemudian menjawab bahwa kedua-duanya benar. Abu Bakar Ash-Shiddiq melakukannya dengan sembunyi-sembunyi karena ia (yang dikenal sangat tawadhu’) khawatir bahwa apabila perbuatannya diketahui oleh orang lain, maka akan berubahlah niatnya yakni ingin mendapat pujian dari orang lain. Sedangkan Umar bin Khattab, ia melakukan hal tersebut secara terang-terangan agar dapat menjadi contoh bagi orang lain. Ia (yang dikenal teguh pendiriannya) berharap dengan dilakukannya perbuatan tersebut secara terang-terangan, justru akan memotivasi orang lain agar melakukan perbuatan serupa.
Dari kisah di atas, telah jelas bahwa ternyata bukan persoalan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, melainkan bagaimana hati ini memandang perbuatan yang dilakukan. Karena, bukan tidak mungkin orang yang melakukan secara sembunyi-sembunyi juga akan dihinggapi perasaan “ujub”, yakni ia merasa bahwa perbuatannya lebih baik dari orang lain. Jadi, telah jelaslah bahwa perbuatan yang dilakukan secara terang-terangan tidak bisa dianggap sebagai pencitraan atau riya belaka.
Untuk pertanyaan kedua, apabila kita sudah memahami jawaban dari pertanyaan pertama di atas tadi, maka sebenarnya kita sudah memiliki gambaran atas pertanyaan kedua. Apabila sudah dipahami bahwa perbuatan terang-terangan belum tentu tergolong riya, dan perbuatan sembunyi-sembunyi juga belum tentu lebih baik dari yang terang-terangan, maka telah jelaslah bahwa yang mengetahui “nia sebenarnyat” dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah dirinya sendiri dan Tuhan. Ya. Karena hanya dirinya dan Tuhanlah yang mengetahui secara hakikat maksud dari perbuatan yang dilakukan. Orang lain boleh saja menganggap bahwa kita melakukan pencitraan, tapi kalau ternyata orang yang dimaksud justru melakukan dengan ikhlas dalam hatinya, bukankah orang yang menganggap orang lain melakukan pencitraan justru melakukan KEDENGKIAN terhadap orang yang dimaksud.
Sungguh, saya merasa miris melihat fenomena yang terjadi dalam pemilihan presiden ini. Banyak pendukung fanatis yang terkuras energinya, justru untuk menjelek-jelekkan pihak lawan dari calon presiden yang didukungnya. Bukankah dengan menjelek-jelekkan pihak lawan, yang terjadi justru adannya balasan serupa dari pihak lawan? Mengapa kita tidak menaruh fokus kita terhadap kebaikan apa yang akan dilakukan oleh calon presiden yang kita dukung? Bukankah itu lebih baik bagi kita semua, terlebih bagi bangsa ini? Atau, karena saking cintanya kita sudah menjadi gelap mata dan tak nampak lagi kebaikan yang ada pada diri lawan? Entahlah, tapi yang jelas, sikap yang kita munculkan suasana pemilihan presiden ini, merupakan gambawan dari diri kita yang sebenarnya. Apakah kita memang lebih suka melihat kekurangan orang lain dari pada kelebihannya, suka menjelek-jelekkan orang lain daripada kejelekan diri sendiri, suka mengumpat atau berkata kasar, itu semua dapat kita lihat dari perilaku kita masing-masing dalam menyikapi fenomena ini.
Melalui tulisan singkat ini, saya hanya ingin mengajak, janganlah kita terlalu mudah menilai perbuatan orang lain. Karena belum tentu apa yang kita nilai itu adalah hal yang benar. Kita (terlebih yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW), hendaknya lebih mengedepankan prasangka baik terhadap orang lain. Bukankah Panutan kita selalu mengajarkan hal demikian, bahkan ketika sedang berhadapan dengan musuh Islam sekalipun. Semoga, kita dapat meniru pribadi beliau dan mendapatkan syafaatnya di hari akhir kelak. Amin.


Riya

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), saya mempunyai seorang teman yang berasal dari keluarga kaya. Ia seorang perempuan, namanya Riya. Suatu ketika ia datang ke sekolah dengan membawa mainan barunya, yaitu sebuah mobil-mobilan. Bagi anak-anak desa seperti kami, yang juga berasal dari keluarga biasa-biasa saja, tentu mainan tersebut sangat menarik perhatian kami. Di dalam kelas, kami melihat bagaimana Riya memainkan mainan tersebut. Tentu diiringi kehebohan dan kegirangan karena itu baru pertama kalinya kami melihat sebuah mobil kecil dapat berjalan sendiri seperti layaknya mobil betulan.
Sampai akhirnya, seorang guru masuk ke dalam kelas kami untuk memulai pelajaran. Saya masih ingat, pelajaran yang diajarkan ketika itu adalah mata pelajaran agama. Sebelum pelajaran dimulai, guru tersebut bertanya kepada kami semua “apakah sebutan untuk orang yang suka pamer?”, ditanya mendadak seperti itu kami hanya bisa terdiam. Kami memang sudah terbiasa mendengar istilah pamer. Akan tetapi, kami bertanya-tanya dalam hati kami masing-masing (atau setidaknya dalam hati saya sendiri), memang ada ya sebutan untuk orang yang pamer, orang yang sukanya pamer ya namanya orang pamer, itu tok.
Kemudian, ketika guru agama tersebut mendapati kami semua hanya terdiam, ia melanjutkan dengan memberi clue atas pertanyaannya tersebut. Sebutan untuk orang pamer, itu sama dengan nama dari salah satu teman kalian. Sontak kami langsung menerka-nerka. Siapa nama teman kami yang katanya “sama” dengan sebutan untuk orang yang suka pamer tersebut.
Kemudian ada salah satu dari teman saya yang menyeletuk, “Riya ya bu?”. Kemudian guru kami tersebut, tanpa ragu langsung menjawab, “iya benar, orang yang suka pamer itu disebut riya, dan riya juga di dalam Islam disebut dengan syirik kecil. Jadi kita tidak diperbolehkan riya”.
Entah ada hubungannya dengan kejadian sebelum pelajaran tersebut dimulai atau tidak, yakni ketika teman kami yang bernama Riya itu membawa mainan barunya untuk diperlihatkan kepada kami, sehingga menjadikan guru kami dengan tiba-tiba memberi pelajaran yang berkaitan dengan hal tersebut.
Tapi yang kemudian menjadi perhatian saya saat itu adalah, “masak sih cuma pamer aja bisa dikategorikan syirik kecil. Bukannya syirik itu termasuk dosa yang besar ya. Berarti pamer dosanya besar juga dong?” . Begitu pemikiran sederhana saya saat itu, dan itu hanya berani saya simpan saja di dalam hati tanpa bertanya kepada guru agama saya tersebut, juga kepada orang lain. Karena selain malu, sebenarnya saya juga masih tidak yakin dengan pertanyaan saya sendiri.
Sampai akhirnya, saat saya menginjak bangku kuliah saya baru memahami arti dari “pamer” tersebut. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sedari SD saya pendam itu.
Kalau dipahami secara kasat mata, orang yang suka pamer atau seperti kata guru saya disebut dengan istilah riya itu, adalah sebuah perbuatan yang dilakukan agar dipuji oleh orang lain. Seseorang yang bermaksud pamer, tentu ia berharap agar dari perbuatannya itu ia akan dielu-elukan oleh orang lain. Hanya itu, tidak lebih.
Akan tetapi, sebenarnya perbuatan “kecil” tersebut mempunyai dampak yang besar. Mengapa orang yang suka pamer disebut riya, kemudian istilah riya sendiri dalam Islam termasuk kategori syirik kecil. Dan walaupun dikatakan syirik kecil, syirik sendiri sudah merupakan dosa yang besar, tentu hal tersebut bukan tanpa alasan.
Sebagai muslim, kita sudah jamak memahami bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini hanyalah semata-mata untuk Allah Swt. Di dalam al-Quran sudah jelas dikatakan, “Dan tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia melainkan hanya untuk menyembahKu semata”. Itu berarti, kita tidak diperkenankan melakukan suatu hal apapun, kecuali untuk Allah Swt.
Kembali ke pemahaman tentang riya, terlihat jelas bahwa melakukan sesuatu dengan niat agar dipuji dan dielu-elukan olah orang lain berarti menyalahi perintah Allah Swt tersebut. Karena itulah ia dianggap sebagai syirik kecil. Dikatakan kecil, karena orang yang riya tersebut walaupun melakukan suatu perbuatan yang ditujukan untuk orang lain, akan tetapi ia masih mempercayai Allah Swt sebagai tuhannya.
Oleh sebab itu, bertindak pamer sudah jelas menyalahi perintah Allah Swt. Perbuatan yang baik sekalipun, apabila dilakukan bukan dikarenakan Allah Swt, maka bukannya mendapatkan pahala dan ridha dari Allah, justru ia akan mendapatkan dosa. Contohnya, shalat. Shalat adalah perintah yang diberikan oleh Allah Swt secara langsung kepada umat Islam melalui nabi Muhammad Saw. Bahkan saking pentingnya perintah tersebut, Allah memberikan perintah  tersebut melalui peristiwa Isra’ wal mi’raj. Akan tetapi, bagi orang yang melakukan shalat dikarenakan pamer, bukannya menjadi jalan agar ia semakin dekat kepada Allah, justru ia tergolong kepada orang-orang yang celaka (Al-Ma’un: 4-6). Sungguh sangat kontradiktif, bukan?
Apabila semua yang kita lakukan didasarkan atas harapan ridha Allah Swt semata, maka setiap perbuatan yang kita lakukan akan bernilai ibadah. Begitu pula sebaliknya, walaupun kita melakukan ibadah mahdhah sekalipun (shalat, puasa, haji, dsb), akan tetapi tidak diiringi harapan atas ridhaNya, maka hanya kesia-siaan yang akan kita dapatkan.
Berdasarkan atas pemahaman di atas, sudah seharusnya kita melakukan introspeksi diri atas apa-apa yang telah kita lakukan selama ini. Sudahkah yang kita lakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan olehNya? atau justru “hanya” mengharapkan pujian dari manusia belaka?

Kawah Condrodimuko, 23 April 2014